Movie Ke-13 Conan @ Golden Week 2009


Rabu, 29 Oktober, situs resmi Frontier Works memajang judul dan tanggal rilis sekuel film live action Higurashi no Naku Koro ni (When They Cry-Higurashi). Film itu diangkat dari novel visual bergenre misteri karya 07th Expansion. 

Higurashi no Naku Koro ni Chikai akan mulai menghiasi bioskop Jepang pada golden week 2009 yang jatuh sekitar awal Mei. Novel, manga, anime, dan film live action Higurashi berkisah seputar pembunuhan yang bertepatan dengan festival tahunan di sebuah desa terpencil

Rencana pembuatan sekuel Higurashi berembus sejak April lalu. Bahkan, rumor sudah beredar di kalangan fans sebelum film live action pertamanya tayang pada 10 Mei. 

Kabar baik juga datang dari serial yang sudah berlangsung lebih dari satu dekade, Meitantei Conan. Setiap tahun, franchise milik Aoyama Gosho itu menelurkan setidaknya satu film layar lebar. April tahun depan, si bocah detektif Edogawa Conan alias Kudou Shinichi bakal tampil di filmnya yang ke-13, Shikkoku no Chaser (The Jet Black Chaser). Sekali lagi, Conan akan menghadapi kuro-zukume alias pria berjubah hitam. 

Sejak serial animenya ditayangkan pada 8 Januari 1996, Conan disaksikan oleh 26 juta pasang mata. Hingga tulisan ini diturunkan, Conan masih diudarakan NTV dengan jumlah episode lebih dari 500. (ANN/ran) 

source : jawapos.com

Baca Selengkapnya...

Melatih Kecerdasan dengan Igo


Permainan Igo yang sangat terkenal di Jepang kini mulai berkembang di Indonesia. Hubungan yang terbina baik antara Indonesia dan Jepang membuat permainan Igo mudah diterima masyarakat Indonesia. Permainan ini menarik banyak minat setelah film kartun Hikaru No Go diputar di stasiun TV7 pada tahun 2002.

Kini popularitas Igo disebarkan dengan adanya aktivitas Igo di Japan Foundation di Jakarta dan di kampus Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta setiap minggu. Di Japan Foundation, kegiatan Igo diselenggarakan tiap Jumat pukul 16.00-21.00. Diperkirakan kini telah 1.000 lebih warga Indonesia bermain Igo.


”Pemainnya sebagian orang Indonesia yang pernah tinggal di Jepang, atau orang Indonesia yang bekerja di perusahaan Jepang. Dia dikenalkan permainan ini oleh bosnya,” kata Edwin Halim, Ketua Umum Federasi Igo Indonesia, di Pameran Indonesia-Jepang Expo 2008 di Arena Pekan Raya Jakarta Kemayoran, Jakarta, Selasa (4/11). Bagi warga Jakarta yang ingin tahu Igo bisa datang ke stan Igo untuk belajar. Pelatihan diberikan gratis hingga Jumat (7/11).

Igo adalah permainan di mana dua orang saling memperebutkan wilayah permainan. Permainan ini menggunakan papan seperti catur, dengan 19 titik x 19 titik yang terhubung oleh garis. Setiap pemain bisa melangkah ke mana saja, tidak seperti catur yang mempunyai ketentuan langkah setiap bidaknya. Akibatnya, setiap pemain tidak bisa memprediksi ke arah mana lawannya akan melangkah.

Pemain pertama memakai biji hitam, sedangkan pemain yang lain memakai biji putih. Setiap pemain harus berusaha menutup jalan lawannya sehingga dia bisa merebut wilayah kekuasaan lawan. Strategi dan langkah yang diambil setiap pemain selalu berbeda di setiap permainan. Inilah yang membuat permainan Igo menjadi sangat menarik.

Permainan Igo sebenarnya berasal dari China kuno. Ada cerita yang mengatakan, permainan ini diciptakan oleh Kaisar Yao (2357-2256 SM) sebagai hiburan untuk anaknya. Ada juga cerita yang menyebutkan Kaisar Shun (2255-2205 SM) yang menciptakan permainan ini untuk meningkatkan kemampuan berpikir anaknya yang lemah.

Igo masuk ke Jepang dari Korea oleh para seniman, kaum terpelajar, dan pegawai pemerintahan yang bermigrasi ke Jepang untuk menghindari kekacauan politik Korea. Namun, ada juga yang percaya Igo dibawa langsung dari China pada tahun 735 oleh Kibi no Makibi, Perdana Menteri Agung Kibi. Pada zaman ini, permainan Igo menjadi permainan elite kerajaan.

Kini di Indonesia permainan Igo sudah mulai dikenal. Sudah beberapa kali turnamen diselenggarakan. Baik antara pemain Indonesia maupun turnamen empat negara, yakni Indonesia, China, Jepang, dan Korea. Beberapa kali pemain Indonesia keluar sebagai juara. Pada Sabtu (8/11) dan Minggu (9/11) ini juga akan diselenggarakan turnamen Igo di Indonesia-Jepang Expo.

Namun, Edwin mengakui, hingga kini untuk mendapatkan peralatan mainan asli masih sulit. ”Kami masih mengimpornya dari Korea. Harganya cukup mahal, Rp 200.000/set,” ujarnya.

Untuk menghemat, akhirnya banyak pemain yang memakai karton yang telah diberi garis kotak-kotak sebagai pengganti papan permainan, sedangkan untuk biji Igo diganti dengan kancing baju.
_____________________

Catur khas Jepang atau igo kini semakin populer. Igo adalah permainan di mana dua orang saling memperebutkan wilayah permainan. Permainan ini menggunakan papan seperti catur, dengan ukuran 19 titik x 19 titik yang terhubung oleh garis. Pemain pertama menggunakan biji hitam, sedangkan pemain yang lain memakai biji putih. Setiap pemain harus berusaha menutup jalan lawannya sehingga dia bisa merebut wilayah kekuasaan lawan. Untuk info lebih lanjut tentang igo masuk aja ke http://www.igoindonesia.org/ ato kalo pengen maen langsung secara online, main di games.yahoo.com/board-games.


Source : www.kompas.com

Baca Selengkapnya...

KOINOBORI


Di Jepang, tanggal 5 Mei merupakan hari libur nasional yang dikenal dengan sebutan hari anak. Pada hari tersebut biasanya dilaksanakan perayaan untuk anak laki-laki. Mulanya, perayaan ini merupakan perayaan yang diselenggarakan pada jaman kuno China, namun di Jepang, perayaan ini mulai dilakukan pada jaman Nara ( 710 ~ 784 ).
Dalam rangka merayakan pertumbuhan kesehatan anak laki-laki dan harapan agar dapat tumbuh berkembang dalam kehidupan, masyarakat Jepang memajangh boneka pada bulan mei dan memancangkan koinobori, yaitu umbul-umbul berbentuk ikan karper atau koi. Selain itu, mereka juga memakan kue tradisional seperti Chisaki, yaitu kue kukus yang terbuat dari kacang merah yang dibungkus daun bambu kecil serta kue kashimochi, kue ketan yang berisi selai kacang merah yang dibungkus dengan pohon Ek. Mereka juga membuat masakan musim semi seperti Takenoko Zushi (sushi dari rebung) disertai dengan meminum sake dari bunga iris. Bunga iris ini dikenal sebagai tanaman obat dengan kekuatan ajaib yang umumnya digunakan untuk menghalau dan mencegah kekuatan jahat. Bunga ini sering digunakan untuk pengganti payung, alas bantal dan untuk berendam di ofuro (bak mandi).

Pada pertengahan jaman Edo (1600 ~ 1867), terdapat kebiasaan di kalangan keluarga samurai yang dianugerahi bayi laki-laki yaitu memancangkan koinobori dan gambar kuda di depan pintu masuk. Tak lama kemudian, kebiasaan ini meluas hingga keluarga yang bukan samurai pun memancangkan koinobori bila lahir bayi laki-laki dalam keluarga mereka. Kebiasaan memancangkan koinobori bermula dari legenda ikan koi akan berubah menjadi naga dan terbang di langit bila mencapai air terjun Ryumon. Sejak dulu, ikan koi dipercaya sebagai ikan yang mendatangkan nasib baik. Ikan koi adalah ikan kuat yang tidak hanya bisa hidup di sungai beraliran jernih saja, tetapi juga di kolam dan di rawa. Pada pemasangan koinobori, terdapat harapan agar sang anak akan tumbuh baik dan sukses tanpa peduli baik atau buruknya lingkungan. Pemikiran mengibarkan koinobori di langit biru sebagai wujud harapan suskesnya pertumbuhan anak laki-laki, merupakan kepekaaan khas yang hanya dimiliki oleh orang Jepang. Urutan pemasangan koinobori, pertama kali adalah memasang yaguruma, yang berperan sebagai jimat. Kemudian berurutan dipasang fukinagashi, magoi, dan higoi. Fukinagashi mempunyai arti sebagai keluarga. Sedangkan magoi, dengan ukuran besar yang berwarna hitam menggambarkan ayah. Higoiadalah ikan koi berwarna yang melambangkan perwujudan dari ibu. Setelah semuanya selesai dipasangkan, yang terakhir adalah memasang kogoi, yang mencerminkan jumlah anak laki-laki dalam keluarga tersebut.
Koinobori umumnya mulai dipancangkan pada 1 ~ 2 minggu sebelum tanggal 5 Mei. Pagi dipancangkan, malam diturunkan. Di Jepang, perayaan koinobori yang terkenal adalah “koinobori no kawawatashi” Manba, kota Kanna, perfektur Gunma dan “koinobori no kawawatashi” desa Towa perfektur Kochi. 

Baca Selengkapnya...

SUIKA WARI (Belah Semangka)

“Kanan..kanan..lebih ke kanan”
“Aduh, terlalu kanan! Kiri”
Hingga duduk di bangku sekolah dasar, setiap tahun di musim panas saya melakukan kegiatan ini. Agenda kegiatan musim panas yaitu suika-wari. Kegiatan ini bisa ditemui di pantai, di gunung, di taman terdekat atau juga di halaman rumah. Pertama kali melakukannya, kalau tidak salah waktu saya TK. Rasanya waktu itu 2 teman saya menjatuhkan semangka yang mereka bawa. Lalu mereka menangis dan teman-teman yang lain ribut. Sedangkan saya memungut dan memakan semangka yang jatuh itu. Lho? Bukan suika-wari yang seperti itu ya? Ya memang bukan sih.

Suika-wari adalah permainan membelah semangka dengan menggunakan tongkat panjang. Tapi kalau hanya membelah begitu saja kan tidak menarik, maka peserta harus berdiri terpisah sekitar 3 sampai 4 meter dari semangka kemudian matanya ditutup dan disuruh berputar sebanyak 2, 3 kali. Kemudian permainan pun dimulai. Dengan berpedoman pada petunjuk suporter, peserta mencari tahu letak semangka. Bila suporter berteriak “ya, tepat”, maka dengan sekuat tenaga para peserta mengarahkan tongkatnya. Bila tongkat tepat mengenai bagian tengah semangka maka akan terdengar suara ”prak”, namun bila tongkat hanya mengenai bagian tepi semangka maka akan terdengar suara “tung”. Dan bila meleset, akan terdengar suara tongkat memukul tanah dan derai tawa para suporter.
Setelah acara suika-wari selesai tentu saja acara selanjutnya adalah makan semangka. Tapi rasa semangka itu tidak terlalu enak. Sebab selama permainan berlangsung semangka menjadi hangat. Tahu sendiri kan bagaimana rasanya semangka yang tidak dingin…? Tapi, tapi, semangka itu harus dimakan, sebab kalau tidak, kita tidak bisa ikut lomba melempar biji semangka melalui mulut. Karena itu saya makan semangka dengan bersemangat. Untuk bisa melempar jauh biji semangka diperlukan tehnik kan ya. Aduh, saya merindukan masa-masa itu! Tapi daripada melempar sejauh mungkin 1 biji semangka yang tersisa di mulut, bagi saya lebih mengasyikkan cepat-cepat menghabiskan semangka, lalu melemparkan biji semangka yang terkumpul di mulut secara terus-menerus seperti senapan mesin. Menyisakan biji di mulut merupakan hal yang cukup sulit ya. Rasanya saya ingin melakukan hal itu lagi! Semangka itu rasanya tidak begitu enak sih, tapi kenangannya sampai sekarang tidak bisa saya lupakan.
Oh iya, saat ini di Jepang dipasarkan semangka berbentuk segi empat. Memang kelihatannya semangka bentuk ini lebih mudah disimpan di lemari es, tapi bagaimana cara memotong dan memakannya ya? Mudah tidak ya untuk acara belah semangka? Tapi yang namanya semangka itu lebih baik bulat ya.
Saat ini udara sedikit demi sedikit akan menjadi panas ya. Bagaimana kalau membayangkan suasana musim panas di Jepang dan mencoba acara belah semangka? Tentu saja setelah itu tidak lupa lomba lempar bijinya.


Baca Selengkapnya...

Puri Himeji


Berjalan menyusuri tanjakan menuju puri Himeji, pengunjung akan disambut pemandangan panorama kota Himeji, Perfektur Hyogo. Puri Himeji dikenal dengan sebutan puri bangau putih atau Shirasagijo. Disebut demikian karena tiga donjonl kecil yang ada di puri tersebut mirip dengan burung. Puri Himeji dibangun pertama kali pada tahun 1346 oleh Sadanori, putera dari Akamatsu Norimura, kepala wilayah Harima, nama lama dari Himeji. Dua abad kemudian pada tahun 1548, puri tersebut direnovasi dengan model yang baru. Pada saat itulah, lahirlah Puri Himeji. Lalu pada tahun 1581, Toyotomi Hideyoshi memodifikasi puri tersebut dan membangun 3 donjon yang penuh sejarah tersebut.


Setelah perang Sekigahara tahun 1600, Shogun Tokugawa Ieyasu memberi hadiah wilayah Himeji kepada Ikeda Terumasa yang telah membantunya selama masa perang. Akhirnya, Ikeda yang juga menantu dari Shogun Tokugawa, merehabilitasi total puri tersebut dengan menambah jumlah donjonnya menjadi 6 buah yang bisa dilihat hingga sekarang.

Pada bulan Desember 1993, Puri Himeji dan kuil Horyuji di Perfektur Nara ditetapkan sebagai salah satu situs tradisional yang perlu dilestarikan oleh komite pelestarian nasional, UNESCO, PBB. Puri Himeji telah menjadi salah satu contoh puri di Jepang yang benar-benar dijaga kelestarian dan keasliannya sampai sekarang. Untungnya, puri tersebut dapat berdiri tegak selama 400 tahun hingga sekarang meskipun banyak sekali bencana alam seperti kebakaran dan gempa bumi yang melanda Jepang.

Dinding puri dan Yagura, menara pengintai memiliki lubang kecil yang disebut sama. Melalui lubang ini, para penjaga puri waktu itu, menggunakannya untuk mengamati musuh yang akan datang menyerang puri pada masa perang. Selain itu, lubang ini, juga digunakan untuk melepaskan anak panah saat menyerang musuh. Lubang yang terdapat di dalam puri ukurannya lebih besar jika diandingkan dengan yang ada di luar puri. Jika dijumlah, dinding yang terdapat lubang sama berjumlah 2.522 buah. Namun lubang yang ada sekarang tinggal 287 buah saja.

Data tentang Puri Himeji
-Tinggi bukit : 45,6 m; Tinggi bangunan: 14,85 m; Tinggi dinding yang mengitari puri: 31,5 m; Tinggi donjon sekitar 92 m diatas air laut.
- Tinggi masing-masing pilar sekitar 24,6 m dengan diameter 1 m.
- Luas komplek puri: 233 hektar (sekitar 50x luas Tokyo Dome)
- Berat bangunan: 6.200 ton.
- Jumlah Pengunjung: 820.000/ tahun.
- Akses: 20 menit dari Stasiun kereta Himeji.

Baca Selengkapnya...