Showing posts with label EVENT. Show all posts
Showing posts with label EVENT. Show all posts

TERU TERU BOZU ART EXHIBITION

Bulan september bagi orang Jepang adalah bulan yang berat, perubahan musim panas ke musim gugur pada bulan-bulan ini selalu diikuti dengan cuaca yang ekstrim seperti badai, topan dan lain sebagainya. Oleh karena itu bagi orang Jepang bulan september atau bulan sembilan adalah bulan yang ingin cepat dilewati, karena dalam budaya orang Jepang angka sembilan dibaca "ku" yang dekat dengan kata "kurushii" yang berarti sengasara.

Salah satu kebiasaan orang Jepang yang unik di bulan september yang notabene banyak terdapat badai adalah memasang boneka kain yang disebut dengan teru-teru bozu. Boneka ini dibuat kemudian digantung di depan rumah saat musim hujan badai dengan harapan badai atau hujan segera berlalu dan cuaca kembali cerah. Setelah badai atau hujan reda boneka kain tersebut kemudian diberi mata dan senyum. Kebiasaan ini sudah ada sejak dahulu kala dan terus berlangsung hingga sekarang.

Pada tanggal 15-17 September 2007 di Azumino Ikeda craft park, kota Ikeda perfektur Nagano, diselenggarakan sebuah even kesenian yang bertajuk "Kita Alpes Teru-Teru Bozu Art Exhibition 1". Kendati ini adalah yang pertama kali, namun peserta yang emngikuti ini cukup banyak dan datang dari seluruh penjuru negeri. Terdapat 525 boneka teru-teru bozu dengan berbagai macam warna yang menarik. Acara yang unik ini tidak hanya mendapat perhatian masyarakat sekitar, namun beberapa radio nasional dan stasiun televisi nasional juga turut serta meliput acara ini. Salah seorang peserta yang datang dari kota Matsumoto yang datang bersama ibu dan neneknya, Takeuchi (5 thn) mengatakan "wah banyak sekali boneka teru-teru bozu-nya, apa karena ini cuaca jadi cerah". (naz)

BON ODORI DI SEKOLAH JEPANG SURABAYA

Hari sabtu malam, 9 september 2007, ada pemandangan yang sedikit berbeda dengan sekolah Jepang Surabaya dari hari-hari biasanya. Lapangan sepak bola Sekolah Jepang Surabaya tampak dipadati oleh mobil, dan banyak orang yang berdatangan sejak pukul 17.00. Tamu-tamu yang berdatangan adalah para ekspatriat Jepang dan relasi-relasinya yang menghadiri acara tahunan Bon odori yang diselenggarakan oleh EEJC dan Sekolah Jepang Surabaya dalam rangka memperingati hari Bon. Bon sendiri adalah festival agama budha yang diselenggarakan pada tanggal 16-17 di Jepang.

Selain untuk memperingati Bon, acara ini merupakan salah satu cara para ekspatriat Jepang melepaskan kangen terhadap suasana negara asal mereka. Baik orang dewasa maupun anak-anak banyak yang mengenakan Yukata, selain itu aroma masakan khas Jepang seperti Takoyaki, Okonomiyaki, Oden juga turut mengentalkan suasana ke-Jepangan dalam acara tersebut. Selain stan makanan yang berjajar, juga terdapat stan permain tradsional seperti lempar gelang, menangkap ikan emas dengan kertas, memancing balon dan lain-lain. Acara ini mirip sekali dengan pasar malam.

Di sela-sela acara, para undangan mulai berbari membentuk lingkaran dan bersiap-siap untuk menari. Mereka menari bersama dengan mengelilingi sebuah menara yang diatasnya terdapat taiko (genderang) dan panggung untuk para pemandu tari. Ketika musik dimainkan, para undangan pun mulai menari memutar menara diiringi dengan tabuhan taiko yang membangkitkan semangat. Orang-orang Indonesia yang di undang ke acara ini tampak begitu senang dan bersemangat menari. Maklum, acara ini juga menjadi salah satu mengenang masa lalu bagi orang-orang Indonesia yang pernah ke Jepang atau menjadi pengalaman baru bagi yang belum pernah kesana. (naz)

DISKUSI DI THE JAPAN FOUNDATION

The Japan Foundation, Jakarta, akan mengadakan acara diskusi pada:

Hari/Tanggal : Rabu, 12 September 2007
Pukul : 14:00 WIB
Tema : Indonesia’s Foreign Policy Towards the ‘Normal’ Japan: Stability and Changes
Pembicara : 1. Dr. Dewi Fortuna Anwar (LIPI, The Habibie Center)
2. Prof. Hideki Kan (Seinan Jo University, Kyushu)
3. Prof. Richard Tanter (Nautillus Institute, RMIT)

Diskusi yang akan membahas tentang sejumlah pandangan yang muncul terkait dengan 'normalisasi' Jepang . Apakah sebenarnya yang menjadi latar belakang dari 'normalisasi' ini, dan kemanakah arahnya? Bagaimanakah dengan pertanyaan sejarah yang selalu menghantui hubungan Jepang dengan negara-negara tetangganya di Asia-Pasifik? Apakah kesalahan sama yang pernah dilakukan Jepang pada Perang Dunia II akan terulang kembali? Bagaimanakah pengaruh dari ‘normalisasi’ ini terhadap struktur keamanan kawasan di Asia Pasifik dan bagaimanakah Indonesia seharusnya menanggapi sejumlah perubahan ini?

Pengantar Diskusi

Pada tanggal 8 Juni 2006, pemerintahan Jepang mengusulkan satu undang-undang untuk mengubah status Agensi Pertahanan Jepang menjadi Kementerian Pertahanan. Undang-undang ini kemudian diluluskan oleh Diet Jepang pada bulan Desember 2006, dan pada Januari 2007 Agensi Pertahanan Jepang secara resmi berubah menjadi Kementerian Pertahan. Banyak orang yang menganggap bahwa hal ini merupakan tanda bahwa Jepang telah kembali menjadi ‘normal’. Sebelumnya, Jepang dianggap sebagai sebuah negara yang tidak ‘normal’ karena Jepang adalah negara dengan pengaruh ekonomi dan politik yang cukup besar, namun tidak ditopang dengan kekuatan militer. Sejak saat Departemen Pertahanan dibentuk (kembali), Jepang akhirnya dapat menegaskan kembali pengaruhnya dan memainkan peranan yang lebih besar dan lebih penting di kawasan Asia pada umumnya, dan Asia Timur pada khususnya. Jepang telah menjadi 'normal'.

Kurang lebih demikianlah pandangan sejumlah ahli.

Namun, sejumlah pandangan lain menyatakan bahwa ‘normalisasi’ ini sebenarnya merupakan bagian strategi global Amerika Serikat. Jepang ‘normal’ karena AS menginginkan hal itu terjadi. Jepang dibutuhkan sebagai kekuatan penyeimbang terhadap Cina dan Korea Utara, dua dari tiga kekuatan komunis terakhir di Asia. Lagipula, perubahan persepsi ancaman dalam masa perang dingin, pertumbuhan Cina yang sangat pesat sehingga mengancam dominasi AS sebagai adidaya tunggal sejak milenia baru mulai, dan kepemimpinan AS dalam kampanye perang melawan teror, telah membuat AS kesulitan untuk terus mempertahankan keberadaan pasukannya di berbagai penjuru dunia secara bersamaan.

Salah satu cara AS untuk mengatasi kesulitan itu adalah meminta para sekutunya meningkatkan kontribusinya terhadap kestabilan pertahanan kawasan mereka masing-masing. Skema cost-sharing dan burden-sharing inilah yang menjadi alasan utama 'normalisasi' Jepang di atas.

Kami mengundang kawan-kawan wartawan untuk datang menghadiri acara ini..


Acara ini diadakan atas kerjasama the Japan Foundation, Program Kajian Wilayah Jepang UI, dan The Habibie Center. Acara ini terbuka untuk UMUM. Tanpa pungutan biaya.Silakan daftarkan nama anda melalui e-mail dipo@jpf.or. id / sms melalui 0811-874-768 .

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi Dipo di (021) 520 1266 atau melalui email ke dipo@jpf.or. id

Para "maid" Menyirami Akihabara

Bagi para otaku (para penggemar animasi, komik, game, dan budaya populer lainnya yang memiliki karateristik psikologi unik), kata "maid" mungkin bukan hal yang asing, namun bagi orang umum, tampkanya istilah "maid" kurang begitu populer. Jika diterjemahkan secara kasar, maid adalah pembantu rumah tangga, namun dalam dunia otaku, "maid" adalah sosok pembantu rumah tangga berseragam cantik dengan wajah melankolis. Biasanya para otaku membayangkan diri mereka dilayani oleh para "maid"-"maid" dengan wajah melankolis dalam aktivitas sehari-harinya. Bagi para otaku yang tinggal di Tokyo, keinginan untuk dilayani oleh para "maid" tersebut sudah bisa menjadi kenyatan sejak beberapa tahun terakhir ini, dimana di pusat perbelajaan elektronik terbesar di Jepang Akihabara atau yang dikenal dengan Akiba-ken dibuka beberapa kafe yang khusus pelayannya menggunakan seragam pembantu rumah tangga seperti dalam film animasi.
The image “http://ca.c.yimg.jp/news/1185963980/img.news.yahoo.co.jp/images/20070801/jijp/20070801-00000026-jijp-soci-thum-000-small.jpg” cannot be displayed, because it contains errors.

Pada tanggal 1 Agustus 2007, sebanyak 27 "maid" dari berbagai kafe khusus otaku ini, tampil di depan publik Akihabara dengan melakukan ritual Uchi mizu, atau menyiram air sebagai tanda berakhirnya Tsuyu (musim hujan di Jepang yang terjadi anatara bulan Juni - Juli). Meski hanya sedikit air yang disiramkan, setidaknya memberikan nuansa yang sejuk di jalanan Akihabara yang miskin dengan pepohonan. (naz)


Bedah Komik di Japan Foundation Jakarta

Komik adalah salah satu bidang yang relatif tidak tersentuh dalam wacana intelektual dan akademis di Indonesia . Pandangan umum di Indonesia adalah bahwa komik memiliki sifat yang dangkal, ringan, dan identik dengan anak-anak/remaja. Dengan pandangan demikian, maka kebanyakan orang memandangnya tidak cocok untuk dijadikan sebagai bahan kajian yang bersifat ilmiah.

Tidak banyak yang menyadari bahwa komik memiliki beragam jenis. Jenis-jenis tersebut terentang dari yang bersifat sangat ringan, hingga sangat serius. Dari yang dangkal, hingga yang memiliki bobot filosofis yang sangat dalam. Kami percaya bahwa ada beberapa komik dari Jepang yang patut untuk dijadikan sebagai objek kajian ilmiah. Salah satu di antaranya adalah komik “Budha” yang diciptakan oleh Osamu Tezuka ini.

Osamu Tezuka dianggap sebagai seorang tokoh yang paling banyak memberikan pengaruh terhadap perkembangan komik Jepang. Begitu besar pengaruhnya, sehingga beliau seringkali disebut-sebut sebagai ‘Dewa Manga’ Jepang. Acara bedah komik akan membahas salah satu karya monumental beliau, yaitu komik dengan judul ‘Budha’. Komik Budha adalah komik yang menceritakan perjalanan Sang Budha, mulai dari kelahiran Beliau, pencerahan yang berhasil Dia capai dan hingga kematiannNya. Komik yang dituliskan oleh Tezuka, sangat sarat dengan pesan moral dan padat dengan nuansa filosofis agama Budha. Kami percaya bahwa komik ini adalah pilihan yang tepat untuk mengadakan acara bedah komik ini.

Acara ini diselenggarakan oleh the Japan Foundation bekerjasama dengan Kepustakaan Populer Gramedia yang merupakan penerbit komik tersebut ke dalam bahasa Indonesia . Kami harap bapak/ibu bersedia untuk menghadiri acara tersebut.

Untuk informasi lebih lanjut tentang acara ini, anda dapat menghubungi staf kami, Dipo D. Siahaan, melalui telepon ke (021) 520 1266 atau melalui email ke dipo@jpf.or. id.

___________________________________________________________________

Hari/Tanggal : Rabu, 11 Juli 2007
Jam : 13:30 WIB

Acara : Diskusi dan Bedah KomikBudhakarya Osamu Tezuka
Pembicara : 1. Siti Dahsiar Anwar (Pakar Agama Dan Masyarakat Jepang
2. Hikmat Dharmawan (Pemerhati Komik dan Novel Grafis)
3. Tyas Palaar (Wartawan majalah Animonster)

Tempat : Aula The Japan Foundation, Jakarta
Gedung Summitmas I, Lt. 2
Jl. Jenderal Sudirman, Kav. 61-62.

______________________________________________________________________________


Tanabata di JASMIN

Pada hari sabtu 7 Juli 2007, JASMIN menyelenggarakan acara Tanabata di ruang kelas Nara. Acara yang dipandu oleh Ono Sensei ini berjalan cukup menarik, karena antusias para peserta yang begitu besar ingin mengetahui tentang apakah yang disebut dengan Tanabata itu.

Tentang Tanabata
Tanabata adalah sebuah hari yang bertanggal 7 bulan 7, dimana pada hari ini, orang Jepang menuliskan keinginannya pada sebuah kertas yang disebut dengan tanzaku yang kemudian digantungkan pada ranting-ranting pohon bambu jenis sasa (pohon bambu yang memiliki daun, batang dan ranting yang kecil).

Tanabata pada awalnya populer di Tiongkok pada abad ke 7. Dimana warga Tiongkok pada saat itu, melakukan ritual melihat bintang pada tanggal 7 bulan ke 7, sekaligus memohon kepada bintang agar permintaan mereka dikabulkan. Tanabata yang begitu populer di Tiongkok, kemudian masuk ke Jepang pada masa pemerintahan Nara atau Nara Jidai (710-784M). Namun budaya baru ini tidak langsung populer. Pada masa pemerintahan Nara, Tanabata hanya dilakukan oleh kaum bangsawan. Pada masa pemerintahan Edo, Tanabata baru bisa dirayakan oleh kaum menengah ke bawah dan menjadi budaya yang merakyat hingga kini.

Kendati berasal dari Tiongkok, Tanabata Jepang sesungguhnya berbeda dengan yang ada di Tiongkok. Jauh sebelum Tanabata masuk ke Jepang, orang Jepang, dulu mengadakan acara ritual pemanggilan arwah para leluhur untuk memohon permintaan sekaligus rasa syukur mereka telah diberkahi panen, dan kekayaan alam melimpah yang diselenggarakan setiap tanggal 7 bulan 7. Dengan tanggal yang sama dan inti yang sama, maka tanggal 7 bulan 7 disebut sebagai Tanabata.

Nama Tanabata sendiri berasal dari Tanabatatsume (para perempuan yang menjahit pakaian untuk arwah yang diundang), dimana kata tsume dihilangkan, dan menjadi Tanbata.

Pada hari Tanabata, setiap orang diperkenankan untuk menuliskan keinginannya pada sebuah kertas yang kemudian digantungkan pada ranting bambu sasa pada tanggal 6 bulan 7. Pada tanggal 7 pagi, semua hiasan tanabata dan tanzaku yang sudah terisi oleh keinginan dihanyutkan ke sungai.

Tanabata di Jasmin


Perayaan Tanabata di Jasmin kali ini, merupakan perayaan Tanabata yang kedua kali. Acara ini merupakan salah satu tujuan Jasmin, sebagai pusat studi bahasa dan budaya Jepang, yang memperkenalkan budaya Jepang kepada siswa Jasmin pada khususnya dan masyarakat umum tentunya. Acara yang dihadiri oleh 25 orang ini berjalan cukup meriah. Selain menuliskan keinginan di Tanzaku, para peserta juga di berikan penjelasan mengenai apakah tanabata itu, sejarah, cara membuat hiasan Tanabata dan lain-lain.

Acara berlangsung sangat meriah ketika para peserta menggantungkan permohonan dan hiasan yang telah mereka buat pada ranting bambu yang telah disiapkan. Setelah mereka menggantungkannya, tampak dari seluruh wajah peserta puas, karena mereka telah menuliskan keinginan dan mimpi yang akan capai kelak.

_______________________________________________________________

Jika Anda tertarik dengan budaya dan bahasa Jepang silahkan hubungi kami di ;
Jl Kalidami 14-16
Surabaya, Jawa Timur
Tel. 031-5967010 Fax. 031-5915860
Email : asjasmin2005@yahoo.co.jp
Untuk informasi tentang Jepang silahkan klik www.fureaimagazine.co.nr
Untuk informasi tentang kursus silahkan klik asjamin.blogspot.com