Showing posts with label CLOSE TO JAPAN. Show all posts
Showing posts with label CLOSE TO JAPAN. Show all posts

Tahun Baru 2012 di Jepang

Seperti di negara lainnya dalam menyambut tahun baru. Jepang juga memiliki tradisi sendiri dalam menyambut pergantian tahun ini. Berikut adalah tradisi-tradisi dalam menyambut dan memperingati tahun baru ala Jepang.

1. Hatsumode (初詣), sembahyang tahun baru orang Jepang


Hatsumode adalah tradisi sembahyang di kuil pada hari pertama di tahun baru, meminta para dewa menjaga kesehatan keluarga mereka dan memberikan rejeki yang melimpah, serta membeli jimat-jimat untuk hal-hal yang ingin diwujudkan atau diinginkan untuk tahun yang akan datang. Ratusan ribu orang akan memadati kuil-kuil Shinto/Buddha pada tanggal 31 Desember dan 1 Januari. Lonceng akan dibunyikan tepat pada tengah malam yang menandakan Jepang telah masuk ke lembaran baru.


2. Osechi


Tahun baru tidak akan ada artinya jika tidak ada hidanfan enak di ruang makan keluarga. Maka, disiapkanlah osechi ryouri (お節料理). Biasanya tidak perlu yang mewah-mewah, yang terpenting ada. Osechi adalah hidangan laut seperti ikan, udang dan sedikit sayur-sayuran yang disajikan di dalam kotak makanan, mirip kotak bento tapi bukan kotak bento, melainkan kotak jubako yang disusun bertingkat-tingkat.

Secara tradisi, osechi dimakan saat sarapan pagi, makan siang dan makan malam selama tiga hari berturut-turut. Tapi di jaman modern ini, banyak keluarga yang makan osechi di satu hari saja.


3. Otoshidama


Di Jepang juga punya kebiasaan membagi uang angpaw ke anak-anak di tahun baru, namanya otoshidama.


4. Nenganjo


Selain itu, ada juga kebiasaan mengirimkan kartu pos tahun baru (年賀状, nengajō).


5. Kadomatsu (hiasan tahun baru)


Menjelang tahun baru, di pintu-pintu depan rumah akan dipasang suatu dekorasi tahun baru khas Jepang yg terbuat dari bambu dan pinus, namanya kadomatsu (門松), yang bertujuan agar di tahun tersebut Tuhan datang ke rumah dengan harapan di tahun itu orang-orang di dalam rumah diberi kebahagiaan dan kemakmuran.



6. Hatsu-uri


Tidak ketinggalan untuk urusan shopping, toko-toko mengadakan sale besar-besaran menyambut tahun baru, namanya hatsuuri (初売り, penjualan pertama). Banyak orang bersiap-siap untuk memborong. Karena diskonnya bisa sampai 85% dari harga asli. Di kota lain ada juga even serupa tapi tidak sama bernama Fukubukuro (福袋) dimana toko-toko menyiapkan kantong yang berisi berbagai barang yang dijual ditoko. Antrian panjang juga menghiasi acara hatsu-uri ini karena banyak orang menjadi antusias. Dan masih banyak lagi lainnya. (def)


Akhir kata, seluruh redaksi FUREAI Magazine Online mengucapkan



新年明けましておめでと

Shinnen Akemashite Omedeto
Selamat Tahun Baru 2012


















source :
http://mawanzan.blogspot.com/2009/12/tahun-baru-ala-orang-jepang.html
http://www.jepang.net/
http://samuraidave.wordpress.com/2006/12/30/new-years-eve-at-a-japanese-shrine-in-tokyo/


Puri Himeji


Berjalan menyusuri tanjakan menuju puri Himeji, pengunjung akan disambut pemandangan panorama kota Himeji, Perfektur Hyogo. Puri Himeji dikenal dengan sebutan puri bangau putih atau Shirasagijo. Disebut demikian karena tiga donjonl kecil yang ada di puri tersebut mirip dengan burung. Puri Himeji dibangun pertama kali pada tahun 1346 oleh Sadanori, putera dari Akamatsu Norimura, kepala wilayah Harima, nama lama dari Himeji. Dua abad kemudian pada tahun 1548, puri tersebut direnovasi dengan model yang baru. Pada saat itulah, lahirlah Puri Himeji. Lalu pada tahun 1581, Toyotomi Hideyoshi memodifikasi puri tersebut dan membangun 3 donjon yang penuh sejarah tersebut.


Setelah perang Sekigahara tahun 1600, Shogun Tokugawa Ieyasu memberi hadiah wilayah Himeji kepada Ikeda Terumasa yang telah membantunya selama masa perang. Akhirnya, Ikeda yang juga menantu dari Shogun Tokugawa, merehabilitasi total puri tersebut dengan menambah jumlah donjonnya menjadi 6 buah yang bisa dilihat hingga sekarang.

Pada bulan Desember 1993, Puri Himeji dan kuil Horyuji di Perfektur Nara ditetapkan sebagai salah satu situs tradisional yang perlu dilestarikan oleh komite pelestarian nasional, UNESCO, PBB. Puri Himeji telah menjadi salah satu contoh puri di Jepang yang benar-benar dijaga kelestarian dan keasliannya sampai sekarang. Untungnya, puri tersebut dapat berdiri tegak selama 400 tahun hingga sekarang meskipun banyak sekali bencana alam seperti kebakaran dan gempa bumi yang melanda Jepang.

Dinding puri dan Yagura, menara pengintai memiliki lubang kecil yang disebut sama. Melalui lubang ini, para penjaga puri waktu itu, menggunakannya untuk mengamati musuh yang akan datang menyerang puri pada masa perang. Selain itu, lubang ini, juga digunakan untuk melepaskan anak panah saat menyerang musuh. Lubang yang terdapat di dalam puri ukurannya lebih besar jika diandingkan dengan yang ada di luar puri. Jika dijumlah, dinding yang terdapat lubang sama berjumlah 2.522 buah. Namun lubang yang ada sekarang tinggal 287 buah saja.

Data tentang Puri Himeji
-Tinggi bukit : 45,6 m; Tinggi bangunan: 14,85 m; Tinggi dinding yang mengitari puri: 31,5 m; Tinggi donjon sekitar 92 m diatas air laut.
- Tinggi masing-masing pilar sekitar 24,6 m dengan diameter 1 m.
- Luas komplek puri: 233 hektar (sekitar 50x luas Tokyo Dome)
- Berat bangunan: 6.200 ton.
- Jumlah Pengunjung: 820.000/ tahun.
- Akses: 20 menit dari Stasiun kereta Himeji.

CARA JEPANG MENGHEMAT BBM

Indonesia adalah negara yang kaya akan energi, baik energi yang terbarukan maupun yang tidak dapat diperbaharui. Namun ironisnya Indonesia malah kekurangan energi, minyak tanah, solar dan premium menjadi barang langka sedangkan harga listrik kian melangit. Berikut adalah sebuah tulisan Benny Marbun seorang insiyur konservasi energi Indonesia, yang pernah menimba ilmu di negeri sakura.


Jepang adalah salah satu negara yang serius menangani konservasi energi. Keseriusannya ditunjukkan dari kepedulian menemukan cara menghemat pemakaian energi, mulai dari yang berdampak kecil hingga yang besar.

Mulai dari yang tidak mengeluarkan biaya tambahan apa-apa hingga yang berongkos selangit. Mulai dari yang dilakukan sukarela hingga yang diberikan insentif. Semangat Jepang melakukan penghematan pemakaian energi, khususnya minyak bumi, patut diacungi dua jempol dan pantas dicontoh. Berikut ini akan dicoba menerapkan semangat konservasi energi Jepang untuk lingkungan kehidupan Indonesia.

Keberhasilan program penghematan energi di Jepang tidak terlepas dari keberadaan The Energy Conservation Center, Japan (ECCJ), suatu organisasi yang bertanggung jawab mempromosikan konservasi energi. ECCJ yang berdiri tahun 1978, atau dua tahun setelah krisis BBM dunia, antara lain memberikan pelayanan informasi tentang teknologi konservasi, undang-undang dan peraturan terkait konservasi, memberikan pelatihan, menguji manajer energi, dan menyelenggarakan seminar yang menggalakkan penghematan energi.

Segmen pemakai energi yang menjadi sasarannya adalah sektor industri, komersial, rumah tangga, dan transportasi.

Kepakaran dan pengabdian dari pengelola ECCJ, yang sebagian darinya adalah tokoh-tokoh sukses yang sudah pensiun, menyebabkan aktivitas ECCJ sangat berdampak kepada keberhasilan konservasi energi di Jepang.

Serius walaupun hal kecil

Salah satu sektor pengguna yang konsumsi BBM-nya masih potensial ditekan adalah sektor automotif, khususnya kendaraan roda dua dan roda empat. Banyak tidaknya pemakaian BBM oleh satu kendaraan terutama ditentukan oleh besar volume (cc) mesin. Semakin besar cc-nya, semakin banyak kebutuhan BBM per satuan jarak tempuh. Contoh, sepeda motor 100 cc hanya mengonsumsi BBM 1:35 (satu liter BBM untuk jarak tempuh rata-rata 40 kilometer).

Bandingkan dengan mobil yang 1000 cc yang memiliki rasio 1:12 dan mobil 2000 cc dengan rasio 1:7. Tetapi, untuk setiap jenis kendaraan yang ukuran cc mesinnya sudah tertentu, ada faktor-faktor lain yang memengaruhi boros tidaknya kendaraan mengonsumsi BBM, seperti yang dijelaskan berikut ini.

Semakin berat kendaraannya, semakin boros kendaraan itu mengonsumsi BBM. Pemilik mobil memiliki kebiasaan membawa barang-barang ke mana saja mobil berjalan walaupun barang tersebut tidak diperlukan. Bagi pemain golf, menyimpan stik golf dan kelengkapannya di bagasi mobil adalah hal yang biasa agar sewaktu ada ajakan main, perlengkapan sudah tersedia. Berat satu set stik golf dapat mencapai 1-15 kilogram.

Untuk mobil yang relatif tua, yang sudah mulai banyak rewelnya, di bagasi mobil biasanya ada oli cadangan, air aki, air radiator, tali derek, bahkan ada yang menyimpan dua ban serap di bagasi.

Semua barang yang sebenarnya tidak diperlukan ini menambah beban kendaraan dan membuat mesin lebih boros. Kalau biasanya untuk jarak tempuh 50 kilometer hanya perlu 5,5 liter, dengan tambahan beban ”aneh-aneh” tadi, konsumsi BBM menjadi 5,88 liter atau lebih boros 0,38 liter untuk jarak tempuh yang sama. Bila di Jakarta ada 100.000 mobil yang perilaku pemilik mobilnya seperti di atas, maka dalam satu hari sudah terjadi pemborosan 38.235 liter. Pengemudi di Jepang hanya membawa perlengkapan mobil seperlunya. Barang bawaan juga terbatas hanya yang memang diperlukan.

Kesiapan kendaraan

Dari bincang-bincang dengan mekanik bengkel, sering pengemudi membawa mobil ke bengkel untuk keperluan lain, misalnya mencuci mobil, tetapi mekanik menemukan bahwa sistem rem kendaraan ada gangguan. Si pengemudi tidak menyadarinya sampai sang mekanik memberitahunya.

Kendaraan yang sistem remnya tidak baik ada kalanya menyebabkan putaran ban agak tertahan oleh kanvas rem. Indikasinya, pelek ban biasanya memanas jika mobil dibawa berjalan, tarikan mesin serasa tidak bertenaga, ketika mobil berjalan melambat menuju berhenti maka mobil akan cepat mencapai posisi stop. Jika keadaan seperti ini terjadi, pemakaian BBM menjadi lebih boros. Karenanya, apabila pengemudi mobil merasakan kelainan sistem pengereman, jangan tunda memeriksakannya ke bengkel.

Keadaan lalu lintas yang padat di kota-kota besar memaksa pengemudi untuk sering memacu kendaraan dari keadaan berhenti dan setelah bergerak sedikit tiba-tiba harus menekan pedal rem. Perilaku seperti ini sering dilakukan pengemudi pada waktu lalu lintas macet. Alasannya, apabila kendaraan dari keadaan stop karena macet mulai dijalankan secara perlahan, bisa saja mobil di kiri atau di kanan tiba-tiba memotong ke depan, mengisi kekosongan tempat yang ditinggalkan mobil yang di depan sebelumnya (lihat gambar).

Agar tidak sering di sodok pengemudi yang tidak sabaran, biasanya pengemudi di kota-kota besar langsung tancap gas bila mobil di depan bergerak. Putaran mesin persneling satu sudah langsung di angka 3.000-an. Padahal, baru 15 meter bergerak sudah berhenti lagi. Karenanya, mobil harus segera di rem.

Perilaku seperti ini sering terjadi dan menyebabkan banyak BBM terbuang percuma. Pengemudi di Jepang lebih tertib, tidak saling sodok walaupun jalanan macet. Karenanya, tak ada salahnya pengemudi Indonesia juga mencoba bersikap sabar, menjalankan kendaraannya secara bertahap tanpa dipaksakan.

Mobil pribadi di kota-kota besar hampir semuanya memiliki AC. Dari pengamatan di jalanan, sebagian besar kendaraan pribadi menyalakan AC ketika sedang dikendarai. Penggunaan AC ini memengaruhi penggunaan BBM. Beberapa jenis mobil menunjukkan perbedaan pemakaian bahan bakar yang berbeda jauh antara saat pakai AC dengan saat tidak memakai AC. Misalnya, ketika tanpa AC, pemakaian BBM sebesar 1:11, yaitu 1 liter untuk 11 kilometer rata-rata. Jika pakai AC, pemakaian BBM menjadi 1:7 rata-rata. Andaikan perjalanan berangkat pagi ke kantor dan pulang malam sejauh 2 x 25 kilometer, penghematan BBM jika mobil berjalan tanpa AC adalah 2,6 liter per hari atau penghematan mencapai 30 persen.

Hanya saja, bagaimana caranya bisa nyaman berkendara di Jakarta tanpa menyalakan AC? Mudah saja, berangkat lebih awal pagi hari dan pulang setelah malam hari sehingga udara relatif sejuk.

Mematikan mesin

Jepang saat ini mulai mencoba menerapkan kebiasaan mematikan mesin pada waktu kendaraan berhenti karena lampu lalu lintas merah. Percobaannya dimulai oleh bus angkutan umum di beberapa kota besar. Walaupun cara ini belum digandrungi di Jepang, tetapi apa yang mereka lakukan menunjukkan bahwa apa pun mereka coba untuk menekan konsumsi BBM.

Cara mematikan mesin pada waktu lampu lalu lintas masih merah mungkin belum cocok diterapkan di Indonesia. Selain karena waktu yang diperlukan untuk lampu berubah dari mulai merah ke hijau relatif singkat, cara seperti itu mensyaratkan mobil harus dalam kondisi sehat.

Jangan-jangan, setelah mesin dimatikan karena lampu merah, ketika mau di-start, mesinnya ngadat karena akinya soak.

Menghindarkan kemacetan

Pengemudi Jepang sangat berupaya menghindarkan kemacetan. Yang dilakukan adalah menghindari berkendaraan pada jam berangkat dan pulang kantor. Pernah suatu kali dalam suatu perjalanan wisata, pemandu wisata mengingatkan agar seluruh penumpang kembali berkumpul pukul 15.00 agar dapat menghindarkan kemacetan dan bergerak meninggalkan kota paling lambat pukul 16.00. Apabila kendaraan berjalan di tengah-tengah kemacetan, pemakaian BBM akan jauh lebih banyak, selain tentu melelahkan.

Pengemudi di kota-kota besar di Indonesia dapat menerapkan semangat menghindarkan kemacetan ini. Misalnya, berangkat lebih pagi, pulang lebih larut. Bila harus berkendara pada jam sibuk, berupayalah mencari jalur alternatif guna menghindar dari kemacetan.

Masyarakat Jepang berupaya tidak membuat acara-acara yang dapat membuat jalanan macet. Kalaupun harus membuat acara di lokasi yang lalu lintasnya ramai, penyelenggara acara jauh-jauh hari sudah memberi tahu masyarakat akan kemungkinan adanya gangguan lalu lintas, bahkan juga memberi informasi jalur-jalur alternatif.

Di Indonesia beda lagi. Sering pesta perkawinan, pesta ulang tahun, dan hajatan lainnya harus menutup jalan umum yang menyebabkan lalu lintas harus dialihkan ke jalan yang lebih sempit dan lebih jauh.

Atau, kalaupun ada acara perkawinan di gedung-gedung mewah, jalanan juga menjadi macet karena para tamu undangan semuanya pakai mobil pribadi. Bagaimana kalau ada yang berinisiatif menyelenggarakan resepsi pernikahan pada waktu senggang? Misalnya hari minggu antara jam 09.00 hingga jam 12.00? Waktu yang tidak lazim memang. Tetapi, pasti jalanan tidak macet, BBM juga tidak diboroskan.

Peluang untuk melakukan penghematan energi masih terbuka besar di Indonesia. Kalau pejabat negara sudah mengimbau untuk menghemat pemakaian energi, tindak lanjutnya terpulang kepada masyarakat. Yang jelas, menghemat pemakaian energi akan menjamin tercapainya keharmonisan: efisiensi ekonomi, perlindungan lingkungan, dan ketersediaan energi jangka panjang.

Artikel diatas ditulis oleh: IR Benny Marbun MENGSC Lulusan Konservasi Energi, Jepang dan pernah dimuat di Kompas Online

VISUAL KEI BAND JEPANG

Penampilan kostum dari para band-band jepang sangat variatif. Terkadang band-band Jepang yang dulu mengusung salah satu style dari visual kei tertentu, setelah masuk kedalam jalur major label kini mereka melupakan style tersebut. Tapi ada juga band yang setelah masuk jalur major label gaya visual mereka malah semakin menjadi, tapi tidak banyak juga band-band yang mulai sedikit demi sedikit menghilangkan gaya visual mereka.


Tidak semua band J-rock yang ber-make up mengusung style ini. Selama ini banyak kesalahpahaman di antara kita tentang visual kei itu sendiri. Sebenarnya selain visual kei masih ada lagi yang di sebut Angura kei dan Shironuri kei. Sekarang kita membahas tentang Angura kei terlebih dahulu, Angura adalah singkatan dari kata “underground”. Angura adalah gerakan budaya di jepang yang dimulai pada tahun 60-an, sebagai reaksi dari pengaruh klasik dan budaya barat. Gerakan ini mencoba mendefinisi ulang dalam seni, tercermin dalam teater independent di jepang. Angura tidak jauh beda dengan Visual Kei dan Eruguro, tapi Erugoru lebih Dark dan ada sentuhan tradisional jepang. Eruguro singkatan dari Erotic dan Grotesque, merupakan sub genre dari musik J-rock yang di populerkan oleh sejumlah band seperti Cali#gari atau merry. Eruguro sendiri lebih memfokuskan pada nuansa Horor yang intens, image cross-gender yang aneh dengan kesan darkhumor.

Pada dasarnya style dalam visual kei di pengaruhi oleh 4 genre musik yaitu, Gothic, metal, rock dan industrial. Berikut ini beberapa contoh style dalam visual kei yang sering di pakai oleh band-band j-rock dan sering di tiru oleh para cosplayers, hehehehe..

Gothic
Seperti namanya style ini memang mengusung sesuatu yang dark, tetapi tidak selalu menggunakan pakaian serba hitam, bisa saja warna hitam di gabungkan dengan warna merah dan putih atau warna-warna gelam lainnya. Contoh band yang setia menggunakan style ini adalah Malice Mizer, dan Moi Dixmois.

Lolita
Dari katanya saja kita sudah bisa menebak, style ini terinspirasi dari gaun anak-anak pada jaman victoria, yang di modifikasi agar terlihat lebih dark dan sangat digemari oleh para J-rockers dan cosplayers. Seperti yang kita kenal, Mana (mantan gitaris Malice Mizer dan sekarang gitaris Moi Dixmois) berhasil membawa image ini didunia J-rock.

Angelic
Apa yang mungkin bisa menggambarkan salah satu style visual kei yang satu ini? Yaitu Pure, saintly, dan adorable. Baju yang serba satin berwarna putih dengan wajah serba pucat dan sayap adalah ciri dari style ini. Pada era Le ciel, Gackt dan Malice Mizer sempat menggunakan style ini.

PUNK
Tidak beda di negara manapun, style ini tetap sama. Rambut yang di cukur seperti pada jaman romawi atau disebut dengan Mo-hawk, celana jeans ketan, Boots, T-shirt kumuh dan Beraneka macam rantai menjadikan ciri salah satu style ini. Tetapi yang uniknya karena dipakai oleh band-band jepang seolah memadukan unsur punk dengan J-style itu sendiri. Biasanya band yang menggunakan style ini membawakan musik yang bergenre punk juga.

Cyber
Style yang satu ini sering di gunakan oleh band yang bernama Glay. Warna-warna silver dan sentuhan make-up yang serba pucat menjadi ciri dari style ini.

Retro
Band seperti Baroque atau Merry adalah band pengusung style retro. Style ini tampil dengan make-up yang dominan hitam dan pakaian yang serba hitam yang sesuai dengan nuansa dark dan gritesque yang di ciptakan melalui musiknya. Mereka juga kadang-kadang memakai pakaian seragam sekolah zaman jepang kuno yang mencerminkan style retro dari musik mereka. Sering juga mengkombinasikan dengan casual street wear dan kostum glamrock.

Fetish
Dari namanya saja kita sudah bisa tau, bahwa style ini mengingatkan kita pada sesuatu yang berbau vinyl, kulit dan tentu saja bondage straps. Kita bisa lihat style ini pada band Dir en Grey dalam video klip nya Raison d’etre.

Oriental
Terinspirasi dari kemolekan penari Geisha, kabuki dan mewahnya kimono. Kita bisa lihat pada band Kaggra yang sering menggunakan style ini. Dimana semua personilnya ( yang semuanya cowok) memakai kimono lengkap dengan atributnya, dan terlihat sangat cantik sekaliiii...!!!

Fairy Tale
Salah satu band yang sukses menggunakan style ini adalah Psycho le cemu. Style ini memiliki ciri yaitu mengadaptasi dari cerita legenda dan mitologi. Tapi perlu di ingat bahwa style ini tidak banyak band yang membawa image visual seperti ini.

Mediterranean
Mari kita balik ke jaman heavenly Laruku, kita bisa melihat sosok Hyde, Tetsu, Ken dan Sakura dengan dandanannya yang agak cewek banget.... Hyde dengan rambut panjangnya, Tetsu dengan rambut di sasak atau di gerai dan Ken dengan penampilan manisnya, kontras dengan penampilan dia sekarang.

Glam
Diambil dari kata “glamour” yang mengangkat image rockstar ala tahun 80-an. Masih ingat almarhum Hide –guitaris X-Japan- yang sering tampil dengan gaya Glam-nya. Selain itu miyavi dan sugizo juga sering menggunakan style ini untuk menunjukan kemolekan tubuhnya. Hehehehe.

Groom Boom
Salah satu ciri dari style ini adalah image pengantin yang menjadi inspirasi oleh para J-rockers. Banyak band J-rock yang menggunakan kostum pengantin, baik gaun maupun tuxedo dalam aksi panggungnya. Contoh band yang sering menggunakan image ini adalah Luna sea, atau malice mizer.

HURUF WAJAH (KAOMOJI?)

Ada emoticon yang punya sebutan kaomoji, yang mulai merebak penggunaanya di kalangan netter dan pengguna SMS. Kaomoji berasal dari Jepang. Secara harafiah, kao berarti wajah, dan moji berarti huruf. Jadi, bisa diartikan bahwa kaomoji adalah huruf-huruf yang dapat mencerminkan ekspresi wajah.

Tampilan kaomoji lebih ekspresif, dibandingkan face mark buatan Amerika, seperti :D atau :-P atau :-). Memahaminya pun tidak perlu memiring-miringkan kepala Anda. Cukup sedikit berimajinasi dengan menatapnya secara tegak lurus, seperti kita membaca biasa. Unsur-unsur karakter khusus yang membentuknya biasanya terdiri dari tanda kurung tutup sebagai wajah, tanda kutip sebagai mata, dan garis bawah sebagai mulut. Kadang kita pun dapat menambahkan gerakan tangan dengan menyisipkan karakter tertentu. Sekilas mirip dengan tokoh-tokoh kartun gaya Jepang. Mukanya bulat, dengan ekspresi mata khas kartun anime. Elemen utamanya adalah karakter tanda kurung yang membentuk pipi dan dan garis bawah yang membentuk mulut.

Contohnya, (^_^) yang digunakan untuk mengekspresikan senyum, atau sedang bahagia. Kalau senyum terpaksa, hilangkan saja tanda kurungnya, sehingga menjadi ^_^. Ingin menggunakan ekspresi tangan? Bisa saja. Misalnya ingin mengacungkan jempol tanda salut, tinggal ketik seperti ini (^_^)d. Selain itu, Anda juga bisa menampilkan simbol keringat atau air mata yang sedang mengalir seperti (^ ^;) atau (T-T).

Kaomoji cukup fleksibel. Dengan karakter-karakter dasarnya, Anda masih bisa berkreasi lebih jauh untuk menciptakan simbol ekspresi yang lebih unik. Misalnya, saat Anda sedang ber-chatting ria dengan kawan Anda, dan ditanya apa yang sedang Anda lakukan, Anda bisa menjawabnya dengan gaya anime yang unik.
[Aku lagi santai sambil merokok nih (^ o ^)y-~~~~~]. Menarik kan?

Tersenyum
(^_^)

Tersenyum
(^-^)

Tertawa lebar
(^O^)

Senyum simpul
(^ . ^)

Bersorak riang
\(^O^)/

Berseru
(^ 3 ^)

Senyum malu, tersipu
(*^-^*)

Senyum merona
(o^-^o)

Merasa terganggu
("-" ;)

Gugup
(-_- ;)

Garuk-garuk kepala
f(^_^)

Menangis
(T_T)

Menitikkan air mata
(; _ ;)

Manyun
(" ~ ")

Geram
(>_<)

Marah
(-_- #)

Bete
(+_+)

Pusing
(x_x)

Bertanya-tanya
(?_?)

Melotot, heran
(@_@)

Tidur
(_ _)zzZZ

Bosan sampai ketiduran
(_ _')

Good bye
(^o^)/~~

Memohon
m(_ _)m

Mendengarkan
w(^_^)

Mencium
(*^3^)

Dicium
(*^.^*)

Malu
(=_=)

Tersipu
(#^^#)

Bermimpi
(_ _)..ooOO

Menulis
X(. . )

Berlari
((( (((;^ ^)

Tergesa-gesa
C=C=(;' _')

Putus asa
(o_ _)o

Acungkan jempol
(^ _^)d

Tanda peace
(^ _^)v

Ngajak berantem
(p^ ^)p

Merokok
(" 3 ")y-~~~-

Merokok
y(^o^)..ooOO

Ultraman
(@|@)

Satria Baja Hitam
(@w@)

ET
(-)(-)

Tikus
(" )~

Kodok
n("~")n

Babi
(^o_o^)

Kucing
(=^.^=)

source : unknwon source

DIBALIK KEENGANAN PEREMPUAN JEPANG UNTUK MEMILIKI BUAH HATI

Makin banyak saja pasangan di Jepang yang enggan memiliki anak. Tak heran, angka kelahiran di Negeri Sakura itu terus merosot. Kaum hawa di negeri tersebut dihadapkan pada pilihan antara karir atau anak.

ADA tiga pemikiran yang menjadi tantangan besar jika pasangan di Jepang ingin memiliki keturunan. Pertama, soal pekerjaan dan membentuk keluarga. Lantas, kurangnya perhatian kepada anak karena ibu dan ayah bekerja. Terakhir, yang terpenting, adalah masalah keuangan. "Semua orang beranggapan bahwa biaya membesarkan anak sangat mahal," kata seorang mahasiswa di Tokyo. Sementara, tidak banyak pasangan muda yang memiliki banyak uang. Gaji, biasanya, dihubungkan dengan usia pekerja. Apalagi, banyak lelaki dan perempuan muda dipekerjakan dengan sistem kontrak dengan bayaran rendah.

Situasi keuangan yang tidak mendukung itu makin pelik jika dihadapkan pada tingginya biaya perumahan dan pendidikan. Apalagi, bagi perempuan, memiliki anak berarti berhenti bekerja. Memang mereka keluar dari pekerjaan itu tidak selalu atas kemauan pribadi, tetapi karena beberapa perusahaan di Jepang tidak menerima lowongan untuk calon ibu. Kalaupun mereka ngotot, mereka bisa-bisa dipaksa keluar.

Dokter Kuniko Inoguchi, mantan menteri kesetaraan gender dan urusan sosial, menyebutkan, sekitar 70 persen perempuan hamil di perusahaan kecil dan menengah harus keluar dari pekerjaan mereka. Bila mereka memilih untuk kembali bekerja setelah melahirkan, situasi tempat kerja bisa sangat berat.

Banyak pasangan sulit menemukan fasilitas penitipan anak dengan harga terjangkau. Namun, bila masalah pengasuhan anak bisa teratasi, terkadang, ibu pekerja sulit mendapatkan promosi dari perusahaan.

"Banyak perempuan Jepang ingin bekerja dan punya anak," kata Mitsuko Kamaya, ibu rumah tangga. "Tetapi, terkadang, kami harus benar-benar memilih, ingin punya anak atau pekerjaan. Keduanya seolah tidak bisa sejalan," sambungnya.

Ditambahkan, bila ada sistem yang menjamin perempuan bisa kembali bekerja dan tidak mendapatkan kesulitan karena memiliki anak, pasangan merasa lebih baik memutuskan punya anak.

Selain itu, pengasuhan anak menjadi masalah. Menurut salah seorang warga senior di Jepang, satu generasi di keluarga Jepang -biasanya- hidup dalam satu rumah. "Hal tersebut baik untuk semua orang. Jadi, selalu ada anggota keluarga yang bisa mengasuh anak," katanya. Di kawasan pedesaan yang tradisinya masih terjaga, angka kelahiran berada di atas rata-rata angka kelahiran nasional.

Tetapi, banyak pasangan muda tinggal di apartemen kecil yang jauh dari keluarga. Ketika bayi mereka lahir, suami, biasanya, kurang bisa diandalkan untuk menjaga anak.

Berdasar survei gaya hidup yang dilakukan pada 2001, lelaki Jepang yang menikah hanya menghabiskan waktu 30 menit setiap hari untuk pekerjaan rumah tangga atau mengasuh anak. Hal tersebut memang bagian dari tradisi, yakni pria Jepang tidak semestinya memasak, membersihkan, ataupun mengganti popok anak.

Selain itu, jam kerja yang sangat panjang ditambah kehidupan sosial setelah bekerja kerap menyulitkan ayah muda untuk menjaga anaknya. "Suami teman saya baru punya anak. Namun, dia harus bekerja sampai pukul 23.00 setiap malam. Dia melihat anaknya saat sudah tidur," kata seorang pebisnis di Tokyo.

Karena itu, dalam beberapa kasus, memiliki anak hanya membuahkan perasaan kesepian dan kelelahan bagi ibu. Walhasil, kebanyakan memilih hanya memiliki satu anak.

Osaka menempati peringkat kedua kota yang paling rendah tingkat kelahirannya setelah Tokyo. Pada 2005, angkanya hanya 1,15 kelahiran per satu perempuan. Angka tersebut jauh di bawah rata-rata kelahiran nasional, 1,26.

Namun, pemerintah saat ini sedang berusaha mengenalkan lebih banyak kebijakan keluarga. Sudah banyak tempat penitipan anak untuk ibu pekerja dan fasilitas lain yang buka lebih lama. Sekolah-sekolah juga menyiapkan program khusus untuk anak-anak yang kedua orang tuanya bekerja. (BBC/tia)

BUDAYA JEPANG MELALUI KACAMATA ORANG INDONESIA

Berikut adalah tulisan Yuli Setyo Indartono, seorang mahasiswa S3 Graduate School of Science and Technology, Kobe University, Japan. Tulisan ini cukup menarik, karena mampu melihat bagaimanakah budaya dan kebiasaan orang Jepang melalui kacamata orang Indonesia. Berikut adalah tulisan beliau, silahkan menikmati tulisan berikut.

Tulisan ini tidak bertutur tentang legenda Bangsa Samurai dahulu kala; namun berkisah tentang Jepang saat ini. Dongeng di sini berarti sesuatu yang mengherankan bila disandingkan dengan kondisi keseharian di tanah air. Meski Jepang bukanlah negeri dongeng yang sempurna, ada nilai-nilai kebaikan universal terealisir yang menarik untuk disimak dan diaplikasikan di tanah air tercinta. Tulisan ini merupakan fragmentasi keseharian saya, istri, dan beberapa kawan dekat kami di Jepang.

Kantor pemerintahan dan pelayanan publik Anda pernah melihat sekelompok semut? Nah, begitulah kira-kira situasi kantor pemerintahan daerah di Jepang. Tidak ada "semut" yang diam termangu, apalagi membaca koran; seluruh karyawan kantor senantiasa bergerak, dari saat bel mulai kerja hingga pulang larut malam. Tak habis pikir, saya tatap dalam-dalam "semut-semut" yang sedang bekerja tersebut; kadang kala saya curi pandang: jangan-jangan mereka sedang ber-internet ria seperti kebiasaan saya di kampus. Ingin saya mengetahui makanan apa gerangan yang dikonsumsi para pegawai itu sehingga mereka sanggup berjam-jam duduk, berkonsentrasi, dan menatap monitor yang bentuknya tidak berubah tersebut. Tata ruang kantor khas Jepang: mulai pimpinan hingga staf teknis duduk pada satu ruangan yang sama - tanpa sekat; semua bisa melihat bahwa semuanya bekerja. Satu orang membaca koran, pasti akan ketahuan. Aksi yang bagi saya dramatis ini masih ditambah lagi dengan aksi lari-lari dari pimpinan ataupun staf dalam melayani masyarakat. Ya, mereka berlari dalam arti yang sesungguhnya dan ekspresi pelayanan yang sama seriusnya. Wajah mereka akan menatap anda dalam-dalam dengan pola serius utuh diselingi dengan senyuman. Saya hampir tak percaya dengan perkataan kawan saya yang mempelajari sistem pemerintahan Jepang, bahwa gaji mereka - para "semut" tersebut - tidak bisa dikatakan berlebihan. Sesuai dengan standard upah di Jepang. Yang saya baca di internet, mereka memiliki kebanggaan berprofesi sebagai abdi negara; kebanggaan yang menutupi penghasilan yang tidak berbeda dengan profesi yang lain.

Menyandang status mahasiswa, saya mendapatkan banyak kemudahan dan
fasilitas dari Pemerintah Jepang. Untuk mengurus berbagai keringanan
tersebut, saya harus mendatangi kantor kecamatan (kuyakusho) atau
walikota (shiyakusho) setempat. Beberapa dokumen harus diisi; khas
Jepang: teliti namun tidak menyulitkan. Dalam berbagai kesempatan saya
harus mengisi kolom semacam: apakah anda melakukan pekerjaan sambilan
(arubaito = part time job), apakah anak anda tinggal bersama anda
(untuk mengurus tunjangan anak), dsb. Dan dalam banyak hal,
pertanyaan-pertanya an tersebut cukup dijawab dengan lisan: ya atau
tidak. Tidak perlu surat-surat pembuktian dari "RT, RW, Kelurahan"
dsb. Saya percaya bahwa sistem yang baik selalu mensyaratkan
kejujuran. Sistem berlandaskan kejujuran akan cepat maju dan
meningkat, sekaligus sangat efisien.

Mengetahui bahwasanya saya adalah orang asing yang kurang lancar
berbahasa Jepang, saya mendapatkan "fasilitas" diantar kesana-kemari
pada saat mengurus berbagai dokumen untuk mengajukan keringanan biaya
melahirkan istri saya. Hal ini terjadi beberapa kali. Seorang senior
saya pernah mengatakan, begitu anda masuk ke kantor pemerintahan di
Jepang, maka semua urusan akan ada (dan harus ada) solusinya. Lain
hari saya membaca prinsip "the biggest (service) for the small" yang
kurang lebih bermakna pelayanan dan perhatian yang maksimal untuk
orang-orang yang kurang beruntung.

Pameo "kalau ada yang sulit, mengapa dipermudah" tidak saya jumpai di
Jepang. Pada suatu urusan di kantor walikota (shiyakusho) saya diminta
untuk menyerahkan surat pajak penghasilan. Saya mengatakan bahwa saya
sudah pernah, di masa yang lalu, menyerahkan surat yang sama ke bagian
lain di kantor tersebut. Saya sudah siap dan pasrah seandainya mereka
menjawab bahwa saya harus mengurus kembali surat tersebut ke kantor
kecamatan sebelum saya pindah ke kota ini. Agak tertegun sekaligus
lega mendapat jawaban bahwa staf divisi tersebut akan mendatangi
divisi lain tempat saya pernah menyerahkan dokumen pajak saya sekian
bulan yang lalu. Dia akan mengkopinya dari sana. Ambil jalan yang
mudah, namun tetap mengedepankan ketelitian. Itulah yang saya jumpai
di Jepang.

Berstatus mahasiswa yang berkeluarga (baca: harus berhemat), kami
sempat terkejut melihat tagihan listrik bulanan yang melonjak hingga
10 kali lipat. Setelah melakukan pengusutan sederhana, tahulah kami
bahwa ada kesalahan pencatatan meter listrik oleh petugas - sebuah
kesalahan yang tidak umum di negeri ini. Segera saat itu pula saya
telpon perusaah listrik wilayah Kansai untuk mengkonfirmasikan
kesalahan tersebut. Berkali-kali kata sumimasen (yang bisa pula
berarti maaf) keluar dari mulut operator telepon. Saya menganggapnya
sudah selesai, karena operator berjanji untuk segera melakukan tindak
lanjut. Belum berapa lama meletakkan tas di laboratorium pagi itu,
istri menelpon dari rumah perihal kedatangan petugas listrik untuk
meminta maaf dan menarik slip tagihan. Setibanya di rumah malam
harinya, baru tahulah saya bahwa yang datang bukanlah sekelas petugas
lapangan (dari kartu nama yang ditinggalkannya) dan tahulah saya bahwa
dia tidak sekedar meminta maaf, karena bingkisan berisi sabun dan
shampo merk cukup terkenal menyertai kartu nama petugas tersebut. Saya
hanya berharap, waktu itu, bahwa petugas pencatat yang keliru tidak
akan bunuh diri. Karena kekeliruan dalam bekerja, secara umum,
menyangkut kehormatan di negara ini.

Saya mengetahui dari sebuah perusahaan penyalur tenaga kerja di Jepang
akan sebuah paradigma "Bila anda datang ke kantor pada pukul 09.00
(jam resmi masuk kantor di Jepang) dan pulang pada pukul 17.00 (jam
resmi pulang kantor di Jepang), maka atasan dan kawan-kawan anda akan
mengatakan bahwa anda tidak memiliki niat bekerja". Saya membuktikan
pameo tersebut, karena setiap hari saya bersepeda melintasi kantor
walikota (shiyakusho) . Sebagian besar lampu di kantor itu masih
menyala hingga pukul 20.00. Dan beberapa kali saya jumpai staf kantor
tersebut memasuki stasiun kereta, juga sekitar pukul 20.00. Hal ini
berarti, mereka semua memiliki niat bekerja - versi Jepang.

Pasar, pertunjukan kejujuran dan perhatian
Suatu kali pernah kami membeli sebungkus buah-buahan dengan bandrol
murah; favorit bagi kalangan mahasiswa asing seperti saya. Saya sudah
mengetahui bahwa ada sedikit cacat (gores atau bekas benturan) pada
permukaan beberapa buah-buahan - sesuai dengan harga murah yang
disematkan padanya. Pada saat kami hendak membayar buah tersebut,
penjual buah buru-buru menerangkan dan menunjuk-nunjuk kondisi sedikit
cacat pada beberapa buah-buahan tersebut, dan kembali memastikan niat
kami membelinya. Sembari tersenyum, tentu saja kami mengatakan
"daijobu" (tidak apa-apa), karena kami sudah melihatnya dari awal.
Beberapa kawan kami mengiyakan pada saat kami menceritakan kejadian
yang bagi kami cukup mengherankan ini; ini berarti sikap jujur
tersebut tidak dimonopoli oleh satu-dua pedagang. Mereka mengerti
betul bahwa kejujuran adalah prasyarat utama keberhasilan dalam
berdagang. Tidak perlu meraup untung sesaat dalam jumlah besar, bila
nantinya akan kehilangan pelanggan.

Hingga hari ini, pada saat bertransaksi di kasir, kami selalu menerima
uang kembalian dalam jumlah yang utuh - sesuai dengan yang tertera
pada slip pembayaran. Tidak kurang, meski hanya satu yen (mata uang
terkecil di Jepang). Tidak ada "pemaksaan" untuk menerima permen
sebagai pengganti nominal tertentu. Selain kagum dengan praktek
berdagang yang baik ini, kami sekaligus kagum dengan sistem perbankan
Jepang yang mampu menyediakan uang recehan untuk pedagang dan vending
machine (mesin penjual otomatis) di se-antero Jepang. Meski bagi
sebagian kalangan, uang kembalian terlihat "sepele"; hal ini bisa
menyebabkan ketidakikhlasan pembeli terhadap transaksi jual-beli.

Istri saya selalu berbelanja bersama anak-anak; dan karena "keriangan"
anak-anak, pada beberapa kasus, pak telur atau buah-buahan bisa
meluncur ke lantai. Dua kali terjadi beberapa telur dalam satu pak
pecah akibat keriangan anak-anak, dan satu kali melibatkan buah yang
mudah penyok. Pada semua kejadian tersebut, petugas supermarket
melihat dan segera mengganti barang-barang tersebut dengan yang baru.
Padahal kami datang dengan wajah lelah dan pasrah untuk membayarnya,
karena kami menyadari benar bahwa ini adalah kelalaian kami. Bahkan
pada satu kasus, barang tersebut sudah dibayar istri saya. Pada saat
kami menerangkan bahwa ini semua ketidaksengajaan anak-anak kami,
dengan ramah petugas supermarket menyahut "daijobu yo" (tidak
apa-apa).

Pada saat berkesempatan mengunjungi sebuah negara lain di Asia untuk
sebuah konferensi, saya baru menyadari keramahtamahan petugas
supermarket di Jepang. Di Jepang, bila anda menanyakan keberadaan
sebuah barang, maka petugas tidak sekedar memberi arah petunjuk pada
anda, namun dia akan mengantarkan anda hingga berjumpa dengan barang
yang dicari; dan petugas baru akan meninggalkan anda setelah
memastikan bahwa everything is ok.

Hal ini tidak berarti bahwa jumlah petugas supermarket di Jepang
demikian banyaknya hingga mereka berkesempatan jalan-jalan di dalam
supermarket yang sangat besar; justru sebaliknya, jumlah petugas
selalu sesuai benar dengan kebutuhan, dan mereka selalu bergerak -
seperti semut. Di sebuah toko elektronik, seorang petugas yang
menjelaskan spesifikasi komputer yang anda tanyai adalah juga kasir
tempat anda membayar serta petugas yang melakukan packing akhir
terhadap komputer yang anda beli.

Polisi, sistem yang bekerja dan melindungi
Kami sempat terheran-heran manakala pertama menginjakkan kaki di Kobe
demi melihat postur polisi dan kendaraannya yang tidak lebih gagah
dibandingkan dengan petugas pos di Indonesia. Benar, ini bukan
metafora.

Memang ada pula polisi di tingkat prefecture (propinsi) yang gagah
mengendarai motor besar bak Chip - ini jumlahnya sedikit. Namun polisi
kota besar seukuran Kobe - salah satu kota metropolis di Jepang,
posturnya tidak segagah polisi yang sering saya jumpai di jalan-jalan
Republik. Anda tentu menganggap saya sedang bergurau bila saya
mengatakan bahwa motor polisi di Kota Kobe dan Ashiya serupa benar
dengan bebek terbang tahun 70-an. Saya tidak bergurau.

Ini Kobe dan Ashiya, dua kota di negara macan ekonomi dunia. Bebek
terbang tersebut dilengkapi dengan boks besi di bagian belakang -
mirip dengan petugas pengantaran barang kiriman. Namun, sekali bapak
atau mbak polisi ini menghentikan kendaraan, tidak pernah saya melihat
ada diantaranya yang berusaha lari. Tidak ada gunanya lari di negara
dengan sistem network yang sangat baik ini. Ke mana pun anda lari,
kesitu pula polisi dengan uniform yang serupa akan menghampiri anda.
Pelan namun pasti. Saya akhirnya mafhum, bahwa polisi di sini lebih
pada fungsi kontrol dan pengambilan keputusan (decision maker) - kedua
fungsi ini memang tidak mensyaratkan badan yang harus berotot dan
berisi. Tak heran saya melihat mas-mas polisi muda berkacamata
melakukan patroli dengan bebek terbangnya. Mereka hanya perlu melihat,
mengawasi, dan mengambil keputusan. Selebihnya, sistem yang akan
bekerja.

Lingkungan hidup dan transportasi
Jepang bukanlah negara dengan penduduk kecil. Populasi negara ini
hampir separuh populasi Republik tercinta. Di sisi lain, wilayah
negara ini didominasi oleh pegunungan yang sulit untuk dihuni.
Pegunungan yang tetap hijau, membuat saya menduga bahwa Pemerintah
Jepang memang sengaja membiarkan kehijauan melekat pada daerah
pegunungan tersebut. Tokyo adalah kota besar dengan jumlah penduduk
terbesar se-dunia, mengalahkan New York dan berbagai kota besar di
mancanegara. Besarnya penduduk, sempitnya dataran yang bisa dihuni,
dan tingginya tingkat ekonomi mensiratkan dua hal: kerapian dan
kebersihan.

Anda akan sangat kesulitan menjumpai sampah anthrophogenik (akibat
aktivitas manusia) di jalan-jalan di Jepang. Kemana mata anda
memandang, maka kesitulah anda akan tertumbuk pada situasi yang bersih
dan rapi. Orang Jepang meletakkan sepatu/alas kaki dengan tangan,
bukan dengan kaki ataupun dilempar begitu saja. Mereka menyadari bahwa
ruang (space) yang mereka miliki tidak luas, sehingga semuanya harus
rapi dan tertata. Sepatu dan alas kaki diletakkan dengan posisi yang
siap untuk digunakan pada saat kita keluar ruangan. Hal ini sesuai
dengan karakteristik mereka yang senantiasa well-prepared dalam
berbagai hal. Kadang saya menjumpai kondisi yang ekstrim; seorang
pasien yang sedang menunggu giliran di depan saya berbicara dan
menggerakkan anggota tubuhnya sendiri.

Saya tahu bahwa ruang periksa di hadapan kami bukan ditempati
psikiater ataupun neurophysicist. Belakangan saya tahu dari kawan yang
belajar di bidang kedokteran, boleh jadi pasien tersebut sedang
mempersiapkan
dialog dengan dokternya.

Transportasi di Jepang didominasi oleh angkutan publik, baik bus,
kereta (lokal, ekspres, super ekspres), shinkansen, dan pesawat
terbang (antar wilayah). Baiknya sistem dan sarana transportasi di
Jepang membuat anda tidak perlu berkeinginan untuk memiliki kendaraan
sendiri - kecuali bila anda tinggal di country-side yang tidak
memiliki banyak alat transportasi umum. Kereta dan shinkansen (kereta
antar kota super ekspres) mendominasi moda transportasi di Jepang.
Sebuah sumber yang saya ingat menyebutkan bahwa kepadatan lalu lintas
kereta di Jepang adalah yang tertinggi di dunia. Di Jepang, kereta dan
shinkansen digerakkan menggunakan listrik. Hal ini tidak menyebabkan
polusi udara di perkotaan, karena listrik diproduksi terpusat. PLTN
sebagai salah satu sumber pemasok utama energi listrik di Jepang,
tentu saja, juga berkontribusi pada rendahnya polusi udara karena,
praktis, PLTN tidak mengemisikan CO2.

Nasehat "tengoklah duru kiri dan kanan sebelum menyeberang jalan"
mungkin tidak sangat penting untuk diterapkan bila anda menyeberang di
tempat yang telah disediakan di Jepang. Anda cukup menunggu lambang
pejalan kaki berubah warna menjadi hijau; insya Allah anda akan
selamat sampai ke seberang - tanpa perlu menengok kiri dan kanan. Saat
berkesempatan mengunjungi kota besar lain di Asia, kebiasaan
menyeberang ala Jepang sempat membuat saya hampir terserempet motor;
lampu hijau saja ternyata tidaklah cukup di kota ini.
Kesehatan dan rumah sakit

Jepang mengerti benar bahwa orang-orang yang sehatlah yang lebih mampu
memajukan bangsa dan negaranya. Mahasiswa di tempat saya belajar, Kobe
University, wajib melakukan pemeriksaan kesehatan (gratis) setahun
sekali. Fasilitas kesehatan di Jepang mendapat perhatian yang tinggi
dari pemerintah. Sebagai orang asing, mahasiswa pula, kami dianjurkan
untuk mengikuti program asuransi nasional. Dengan mengikuti program
ini, kami hanya perlu membayar 30% dari biaya berobat. Dari yang 30%
tersebut, sebagai mahasiswa asing, saya akan mendapatkan tambahan
potongan sebesar 80% (yang belakangan turun menjadi 35%) dari
Kementrian Pendidikan Jepang.

Berstatuskan mahasiswa, kami membayar premi asuransi per-bulan yang
jauh lebih kecil dibandingkan dengan orang kebanyakan. Dari laporan
rutin yang dikirimkan oleh pihak asuransi kepada kami, tahulah saya
bahwa ongkos berobat kami selalu (jauh) lebih besar dari premi
asuransi yang saya bayarkan setiap bulannya. Berbekal kartu asuransi
nasional, datang ke rumah sakit ataupun ke klinik swasta bukan lagi
menjadi hal yang menakutkan bagi keluarga kami di Jepang.

Jangan membayangkan bahwa pihak rumah sakit atau klinik swasta akan
memberikan perlakuan yang berbeda kepada para pemegang kartu asuransi
- apalagi untuk kami yang mendapatkan kartu tambahan khusus keluarga
tidak mampu. Para dokter dan perawat melayani dengan keramahan yang
tidak berkurang serta prosedur yang sama sederhananya. Keramahan di
sini berarti keramahan yang sebenar-benarnya.

Baik anda kaya ataupun miskin, proses masuk dan keluar dari rumah
sakit di Jepang adalah sama mudahnya. Saat istri melahirkan di rumah
sakit pemerintah di Ashiya, saya disodori formulir yang berisi opsi
pembayaran: tunai, lewat bank, dll. Tidak menjadi sebuah keharusan
bagi seorang pasien untuk menyelesaikan kewajiban pembayaran di hari
dia harus keluar dari rumah sakit. Alhamdulillah kami mendapatkan
keringanan biaya melahirkan dari Pemerintah Kota Ashiya; selain bisa
melenggang dari rumah sakit tanpa bayar pada hari itu, tagihan dari
Kantor Walikota (setelah dipotong subsidi dari pemerintah) juga baru
datang dua bulan kemudian. Saling percaya adalah kuncinya.

Yuli Setyo Indartono
Mahasiswa S3 di Graduate School of Science and Technology, Kobe
University, Japan.
Peneliti Istecs dan Ketua Teknologi Energi INDENI www.indeni.org
Email: indartono@yahoo. com

PROGRAM SUBSIDI MAKAN SIANG DI JEPANG

Prihatin dengan makin banyaknya siswa yang tidak sarapan saat sekolah, pemerintah Jepang kini memberikan subsidi makan siang. Asupan nutrisinya pun diatur dengan detail agar mereka bisa menjadi generasi moncer.
------------------

BEL istirahat berbunyi tepat pukul 12.30 waktu Tokyo. Dengan tertib anak-anak Sekolah Dasar Nikisai antre di ruang makan. Tak ada yang saling menyerobot. Selesai mengambil nampan, piring, dan mangkuk, antrean siswa beralih menuju deretan makanan. Di situ para siswa yang sedang piket -memakai pembungkus kepala dan masker- lalu mengambilkan makanan bagi teman-temannya.

Setelah seporsi makan siang Japanese style siap disantap, mereka duduk di bangku dan serempak mengucapkan: Itadakimasu (terima kasih atas makanannya). Saat makan, musik mengalun lembut. Namanya juga anak, senda gurau beberapa kali terdengar saat mereka menikmati hidangan yang disubsidi pemerintah Jepang itu.

Menu yang disiapkan koki sekolah hari itu: hizikigohan (nasi merah campur irisan daging), tofu masagoage (perkedel tahu), nibitashi dan tougannamisosiru (sayur rebus), nashi (buah pir), serta 200 ml susu rendah lemak.

"Jumlahnya 600 kalori per porsi. Ini sudah ditetapkan Departemen Kesehatan," jelas Yoko Kobayashi, ahli diet, yang bertugas di SD yang memiliki 20 kelas itu.

Keakraban yang tercipta itulah yang membuat mereka kian lahap menyantap makan siang sampai ludes. Tak ada yang rewel dengan sayur, seperti keluhan umumnya orang tua di Indonesia tentang anaknya yang tak suka sayur. Apalagi susu. Semua disikat habis oleh bocah-bocah lucu itu.

Setiap hari para siswa di sekolah yang dipimpin Kimiko Yabe itu menikmati makan siang yang disubsidi negara. Mereka tidak perlu membawa bekal dari rumah, apalagi jajan seperti yang sering dilakukan siswa di tanah air. "Saya selalu katakan kepada anak-anak, jika mereka sarapan dan makan siang cukup, tak akan ada yang kelaparan di sekolah," kata Yabe, ibu kepala sekolah, yang hari itu mendampingi Yoko Kobayashi.

"Dengan makanan bergizi ini, anak-anak tidak perlu lagi mengonsumsi suplemen," timpal Kobayashi.

Selain makan siang, pentingnya sarapan memang selalu ditekankan oleh para guru Jepang yang dikenal mengajar siswanya dengan "hati" itu. Bahkan, pemerintah sendiri pun gencar mengampanyekan pentingnya breakfast.

"Bangunlah lebih awal sehingga kalian punya waktu untuk sarapan." Demikian bunyi pesan kampanye pemerintah Jepang kepada anak-anak sekolah.

Otoritas setempat akhir-akhir ini prihatin melihat kian banyak generasi muda di negeri itu yang berangkat ke sekolah tanpa mengisi perut dengan makanan bergizi.

Menurut Miho Kawano, cabinet office, Government of Japan/Dietary Education Promotion Department, siswa yang tak sarapan sebelum ke sekolah ada tren naik. Pada 1995, bocah SD yang tak makan pagi 13,3 persen, 10 tahun kemudian menjadi 14,7 persen. Angka itu kian besar pada remaja. Jika pada 1995 rata-rata 18,9 persen ABG ogah sarapan, pada 2005 menjadi 19,5 persen. Dua alasan dominan yang dikemukakan adalah tidak ada waktu dan selera makan.

Soal pentingnya makan pagi itu hanya menjadi salah satu bagian dari tugas departemen yang khusus mengatur soal makanan. Tugas kantor kementerian itu terutama adalah mengedukasi pentingnya makan (food education) atau dikenal dengan sebutan syokuiku. Tujuannya, mempromosikan agar persentase warga yang peduli pada prinsip dasar makan yang seimbang naik dari 70 persen menjadi lebih dari 90 persen.

"Jepang memiliki program Health Japan 21 sebagai upaya untuk memiliki warga negara yang lebih sehat pada abad ke-21 ini," jelas Kawano.

Untuk mewujudkannya, pemerintah menggelontor dana lumayan banyak. Per tahun, anggaran untuk syokuiku itu JPY 11,3 miliar (sekitar Rp 9,266 triliun). Bandingkan dengan total anggaran kesehatan nasional Indonesia yang untuk 2007 ini Rp 19,2 triliun dan tahun depan malah bakal diturunkan menjadi Rp 17,6 triliun.

Selain untuk program makan bersama di sekolah, pemerintah mengeluarkan buku untuk anak-anak yang isinya merangsang agar mereka terbiasa makan sehat. "Kami juga membuat program orang tua dan anak masak bersama di sekolah, kemudian dinikmati bersama-sama," lanjutnya.

Soal makan bersama anak dan orang tua itu memang juga dianggap penting. Ada ancaman generasi muda meninggalkan kebiasaan makan bersama dengan keluarga. Mereka memilih menyantap makanan di luar rumah yang pilihannya cenderung fast food.

Gaya hidup tak sehat yang melahirkan generasi terancam obesitas itulah yang berusaha diperangi Jepang. Apalagi, tren obesitas pada anak muda juga terbukti terus naik. Pada 1995, hanya 12 persen generasi muda yang kegemukan. Sepuluh tahun kemudian ( 2005) angkanya melesat menjadi 19,8 persen.

Kondisi lain yang mendukung upaya menciptakan generasi sehat dan cemerlang itu adalah tren warga Jepang mengonsumsi makanan dan minuman sehat. Pemerintah melabeli dengan FOSHU (food for specified health uses). "Hingga kini, yang sudah didaftarkan 703 item," jelas Toshiaki Kitsukawa, direktur FOSHU Department.

Salah satu yang menjadi favorit, menurut dia, adalah produk yang mengandung bakteri lactobacillus.

Lho, minuman berbakteri kok malah disukai? "Tentu saja bakteri yang dimaksud adalah yang baik, bermanfaat bagi kesehatan," tandasnya. (Amri Husniati yang baru pulang dari Tokyo, Jepang)

source: www.jawapos.com

YAKUZA MOON, UNGKAPAN HATI PUTRI YAKUZA

Penampilan fisik Shoko Tendo tidak berbeda dengan perempuan muda Jepang lainnya. Dia baru terlihat beda setelah melepas pakaian dan memperlihatkan tato yang menghiasi hampir sekujur tubuhnya.

Posisinya sebagai seorang putri tokoh mafia Jepang, Yakuza, tidak bisa menolak saat tubuhnya dipenuhi rajah beraneka bentuk dan warna itu. Pada usianya yang genap 39 tahun, dia menerbitkan buku yang mengisahkan suka dukanya sebagai putri gangster lewat bukunya, Yakuza Moon.

Dalam buku yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris itu, dia mengatakan bahwa usaha polisi menangkapi anggota gangster malah membuat pelaku kejahatan tersebut sulit ditemukan dan dilacak. "Semakin keras polisi berusaha, semakin cepat yakuza bersembunyi di bawah tanah dan membuat aktivitas mereka bertambah sulit dilacak," katanya saat diwawancarai Reuters.

Tendo bisa mengungkapkan itu karena dia adalah putri bos Yamaguchi-gumi, yakuza terbesar di Jepang. Yamaguchi-gumi digambarkan sebagai kelompok yakuza elite dengan dandanan ala gangster Italia lengkap dengan jas, mobil impor nan mewah, serta motor Harley-Davidson.


Dibesarkan dengan ide kuat mengenai kehormatan, Tendo tumbuh sebagai anak yang dimanja. Dan, untuk menunjukkan statusnya, kulit Tendo ditato lelaki yang kerap mengunjungi rumah keluarganya.

Di luar rumah, dia sering mendapatkan ejekan. Dia pun terperosok sebagai pecandu narkoba. Kehidupan Tendo berputar di dunia gangster ketika menjadi kekasih beberapa pemimpin gangster.

Tetapi, dunia gelap Tendo berubah ketika kematian mulai mendekatinya. Saat itu, dia dipukuli dan mengalami overdosis obat. "Kejadian itu mengubah hidup saya," katanya.

Sekarang, dia mengaku sudah menjauhi dunia yakuza yang dia nilai kehilangan tradisi mereka secara drastis. Menurut dia, tidak sulit menjadi anggota gang di Jepang. Sampai sekarang pun, gang-gang tersebut mudah ditemui.

Sebelumnya, gang-gang itu kerap bekerja sama dengan kepolisian untuk menyerahkan tersangka dari tindakan kejahatan yang dilakukan yakuza. Tetapi, kerja sama antara polisi dan gang terhenti ketika hukum kejahatan terorganisasi diperketat pada 1992.

Saat ini, pemasukan terbesar yakuza diperoleh dari kepemilikan saham, properti, dan keuangan. "Yakuza menjadi lebih testruktur seperti mafia Amerika Serikat. Yakuza juga memperluas jaringan mereka antara ahli-ahli bisnis dan ahli kekerasan," kata Manabu Miyazaki, penulis yang ayahnya juga yakuza. (rtr/tia)

source : www.jawapos.com

WARNET SEBAGAI ALTERNATIF PENGINAPAN

Kendati globalisasi sudah mulai terasa diseluruh penjuru dunia, namun masalah urbanisasi tidak pernah habis menjadi bahan pembicaraan, terutama yang berkaiatan dengan penyelesaian masalah pemukiman kaum urban.

Tokyo sebagai salah satu kota Megapolitan di Jepang, memang memiliki gemerlap yang luar biasa, namun sebagai kota yang besar bukan berarti Tokyo tidak mengalami masalah serius.

Salah satu masalah yang diderita oleh kota-kota besar adalah tingginya harga tanah, sehingga membuat harga pemukiman, baik rumah ataupun kawar sewa menjadi mahal, sehingga tidak sedikit orang yang kemudian tidak bisa beristirahat dengan layak karena penghasilan yang pas-pasan.

Kendati mencari uang di Tokyo adalah hal yang mudah untuk sebagian orang, namun bagi sebagian orang yang lain, mencari uang di Tokyo adalah hal yang susah. Salah satu kasus yang menarik untuk disimak adalah kasus, para kaum urban dengan gaji pas-pasan yang kemudian tidak memiliki tempat tinggal.

Seperti halnya beberapa pemuda yang tampak dibeberapa warnet (warung internet) di Tokyo. Di warnet-warnet ini banyak para pemuda yang tidak memiliki tempat inggal memilih untuk menginap di warnet sebagai salah satu alternatif pilihan lain ketimbang tidur di jalanan. Tentu saja hal ini menjadi masalah sosial yang serius jika terus dibiarkan begitu saja.

Seorang pemuda berusia 24 tahun, yang menyebut dirinya sebagai seorang “pengungsi”
telah merasa bosan merasakan hidup berpindah-pindah tanpa alamat yang jelas selama dua tahun terakhir. Selain itu ia juga sudah bosan dengan ruangan sempit berukuran 1,6 meter persegi dan bersekat partisi tipis dengan ruangan lain di warnet yang buka 24 jam.

Kehidupan yang serba sempit ini dimulainya ketika ia diusir dari apartementnya karena dia tidak bisa bayar biaya sewa 50 ribu yen per bulan. Namun karena jumlah uang yang menipis, membuatnya harus memutar otak untuk menemukan tempat tidur yang layak, sehingga ia menemukan ide untuk menginap di warnet.

Pemuda ini adalah lulusan diploma 2, yang datang ke Tokyo dengan mimpi bergabung dengan perusahaan yang berhubungan dengan video. Dia lulus pada tahun 2003 dan mulai bekerja sebagai seorang asisten di sebuah rumah produksi skala kecil. Namun meski dia bekerja setiap hari dengan keras, namun dia hanya menerima gaji bersih sebesar 130 ribu yen atau sekitar (11 juta rupiah) perbulan. Meski gaji ini cukup besar bagi orang Indonesia, namun tidak bagi orang Jepang. Terlebih hidup di kota besar seperti Tokyo yang mana biaya hidupnya sangat mahal.

Namun dewi fortuna tampaknya tidak memayungi dirinya. Hal ini dikarenakan ia di pecat dari pekerjaannya karena gagal bekerja dengan baik. Pada saat yang sama dia juga diusir dari apartementnya, dan mulailah dia hidup dan tinggal di warnet.

Karena tidak memiliki alamat tetap, maka dia pun susah untuk mencari pekerjaan yang tetap. Hingga akhirnya dia menemukan pekerjan paruh waktu pad amalam hari dengan bayaran harian.

Tentu saja kondisi ini tidak saja membuat kesehatan fisiknya memburuk, namun kesehatan mentalnya juga memburuk. “Yang aku pikirkan saat itu, adalah bagaimana bisa makan setiap harinya. Aku tidak bisa pergi ke rumah sakit karena tidak ada asuransi” katanya.

Hingga suatu hari ia menemukan pekerjaan yang berkaitan dengan video di kampung halamannya. Dia juga menjelaskan bahwa hidup di Tokyo adalah hal yang sangat mengerikan. “Aku tinggal di warnet karena hanya menghabiskan 1000 yen setiap malamnya. Namun aku merasa, bahwa hal itu setingkat lebih baik dibandingkan tidur dijalanan.” Tuturnya. “Aku tidak ingin kembali ke masa itu. Tidak ada yang penting dalam hidup ini kecuali hidup dengan kondisi yang sehat”.

Pada musim semi tahun ini, The Trade Union Shutoken dan beberapa organisasai lain, melakukan survey ke warnet yang tersebar di sembilan perfektur di Jepang. Hasilnya dari 94 warnet, 65 warnet memiliki pelangan yang menghabiskan waktunya cukup lama di warnet.

Masalah sosial ini ternyata menarik sebuah organisasi nirlaba, Independent Life Support Center Moyai yang terletak di Shinjuku, Tokyo. Organisasi ini berharap bisa membantu orang-orang yang memiliki nasib yang sama dengan pemuda diatas.

“Banyak orang yang tidak bisa melarikan diri dari masa-masa sulit ketika sekali terjerembab ke dalamnya. Tentu saja masyarakat dan pemerintah harus memperhatikan serius masalah ini dan menyelesaikannya dengan bantuan sosial sehingga setiap orang bisa hidup dengan layak” tutur Makoto Yuasa, ketua organisasi.

Sedangkan pada saat ini Menteri Kesehatan, Buruh dan Kesejahteraan berencana untuk melakukan survey terhadap orang-orang yang tinggal di warnet dalam jangka waktu pendek. (naz)

DARI BERAS KE BALAPAN


Pada bulan april yang lalu, di Jepang diselenggarakan kejuaran balapan amatir dengan menggunakan kendaraan berbahan bakar bio-fuel. Kejuaraan ini merupakan salah satu upaya bangsa Jepang untuk mengampanyekan penggunaan bio-fuel sebagai bahan bakar yang dianggap bisa mengurangi efek pemanasan global yang semakin mengkhawatirkan dunia.

Pada kejuaraan ini digunakan bahan bakar bio-fuel ethanol yang mencapai 98 %, yang diproduksi oleh salah satu negara produsen bio-fuel terbesar dunia, Brasil. Selain it penggunaan bio-fuel ternyata juga mampu menurunkan suara mesin yang menderu-deru dan membisingkan telinga tanpa harus mengurangi kecepatan mobil. Dalam kejuaraan in, kecepatan puncak yang dicapai adalah 350 km/jam!.

Biofuel sangat ramah lingkungan. Hal ini dikarenakan bio-fuel terbuat dari tanaman, sehingga gas buang sisa bio-fuel ini memiliki kadar karbon dioksida yang rendah. Seperti yang dikatakan oleh salah satu staff enginer salah satu team pserta lomba "Gas buang dari bio-fuel tidak begitu berbau jika dibandingkan dengan bahan bakar fosil".

Pengembangan Bio-fuel sendiri dipelopori oleh Amerika Serikat bekerjasama dengan Brasil. Amerika Serikat yang merupakan salah satu negara pengkonsumsi minyak terbesar di dunia, mengaku harus mencari sumber energi alternatif yang ramah lingkungan untuk memenuhi kebutuhan energinya. Oleh karena itu Amerika menggunakan lahan-lahan tidur di Brasil untuk ditanami tanaman yang mampu menghasilkan bio-fuel.

Jepang sebagai negara dengan konsumsi energi yang tinggi, tentu tidak tinggal diam, meskipun dengan jumlah yang masih terbatas, Jepang sudah mampu memproduksi bio-fuel. Hal ini dikarenakan kondisi alam Jepang yang kurang mampu menghasilkan tebu berkualitas untuk menghasilkan bio-fuel. Oleh karena itu beberapa peneliti berusaha untuk mencari alternatif lain sumber bio-fuel yang ada di Jepang.

The image “http://www.yomiuri.co.jp/dy/columns/0005/img/lens216_01.jpg” cannot be displayed, because it contains errors.The image “http://www.yomiuri.co.jp/dy/columns/0005/img/lens216_03.jpg” cannot be displayed, because it contains errors.

Salah satu eksperimen, dilakukan mulai musim semi tahun ini di Sado, perfektur Niigata, yang mana menanam padi dan mengubahnya menjadi bio-ethanol. Hal ini dikarenakan di daerah Sado merupakan penghasil beras terbaik di Jepang, surplus beras di derah ini diharapkan bisa diolah menjadi bio-ethanol. Selain menanam padi daratan, juga di kembangkan teknologi penanaman padi di air. Sehingga jumlah ladang bisa semakin luas tanpa bergantung dengan jumlah daratan.

Menurut Yutaka Kimura, yang merupakan salah satu peneliti dari Tsukuba University, mengatakan "Kita harus mampu meproduksi beras sebanyak mungkin dengan menggunakan jumlah pekerja dan biaya yang sedikit mungkin".

Jepang adalah salah satu negara yang menandatangani kontrak pengurangan gas emisi pada tahun 2050, yang ditandatangani pada pertemuan G8 yang diselenggarakan di Heiligendamm, Jerman.

Penelitian dan pengembangan yang dilakukan oleh Jepang ini selain dilakukan untuk memenuhi kebutuhan energi, juga ditujukan untuk menyelamatkan dunia bersama dan mewariskan pada anak cucu kita. (naz)